Mahasiswa IPB Mengamati Terumbu Karang Tanpa Menyelam Lewat CR Watch

165

Bagaimana jika kita bisa memantau kedalaman laut tanpa harus menyelam ke dasarnya? Teknologi demikian memang sudah ada dan telah digunakan oleh manusia, tapi teknologi tersebut rata-rata dibuat oleh negara lain. Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui Program Kreativitas Mahasiswa – Karsa Cipta (PKM-KC) kini tengah merancang teknologi serupa yang dibuat di dalam negeri dan untuk kemaslahatan dalam negeri.

Mahasiswa yang tergabung dalam PKM-KC tersebut adalah Ferdiansyah Ramadhan, Gibran Adhi Fattah Putra, Imam Syafi’i, dan Sefto. Wahana bawah air itu diberi nama Coral Reef Watch (CR Watch) dengan mengadopsi sistem telemetri untuk memantau terumbu karang di perairan Indonesia berbasis waktu nyata (real time). Terumbu karang sebagai rumah bagi berbagai biota laut mengalami berbagai ancaman terhadap kelestariannya. Beberapa faktor yang mengancam kelestarian terumbu karang dari faktor alam maupun serangan predator.

Selain bertugas memantau kondisi ekosistem terumbu karang, CR Watch juga dilengkapi alat pengukur suhu perairan. Pemantauan berupa video bermanfaat sebagai data primer untuk mengamati kondisi terumbu karang, biota laut yang ada di titik pengamatan, serta fenomena-fenomena kelautan yang terjadi. Data-data tersebut dapat digunakan untuk penelitian kelautan. Kelengkapan alat pengukur suhu dapat memberikan informasi yang selaras dengan keadaan fisik perairan terhadap fenomena yang ditangkap alat perekam CR Watch. Kedua kombinasi tersebut merupakan keutamaan penggunaan CR Watch pada perairan di Indonesia.

CR Watch dirancang sebagai alat pemantau kondisi bawah laut secara langsung. Menerapkan sistem telemetri, CR Watch dapat diakses dari tempat yang jauh dari titik pemantauan. Terdapat tiga bagian yang dirancang yaitu wahana pemantau bawah air, perangkat buoy, dan perangkat ground segment. Perangkat pemantau bawah air terdiri dari kerangka besi dan pelindung kedap air untuk perangkat perekam gambar. Perangkat buoy dirancang sebagai tempat memasang sumberdaya yang berupa panel surya juga perangkat video transmitter. Buoy akan mengapung di permukaan air laut atau diletakan di bagan (sejenis bangunan mengapung untuk penangkapan ikan). Bagian ground segment adalah perangkat yang dipasang di daratan untuk menangkap data dari router dan menampilkan gambar secara langsung.

Proses produksi alat CR Watch dan pengujian alat dilakukan di Kampus IPB. Beberapa tahap kegiatan yang dilakukan diantaranya; pengujian integrasi perangkat untuk menguji kekedapan wahana dari air. Kegiatan tersebut penting untuk menjaga kamera agar tetap berfungsi; dan pengujian di laut yaitu di perairan Kepulauan Seribu untuk menguji alat dalam pengambilan gambar dan data suhu di perairan tersebut.

Melalui prototype CR Watch harapannya masyarakat bisa memanfaatkan teknologi ini untuk berbagai keperluan, diantaranya pemantauan area konservasi, pemantauan kondisi ikan, atau data ilmiah untuk keperluan akademik. Tim CR Watch terus melakukan perbaikan alat untuk menghasilkan inovasi wahana pengamatan bawah air buatan dalam negeri. (EAW/NM)