Kita mengenal teknologi rumah kaca dalam budidaya tanaman. Ternyata, teknologi serupa dapat dimanfaatkan dalam proses pemurnian air laut menjadi air tawar.

Tim kecil mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) memanfaatkan metode ruang kaca ini guna menyediakan persediaan air bersih dengan memanfaatkan air laut. Salah satu anggota tim, Prasetyo Zahara, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir didasari meningkatnya kebutuhan akan air bersih di tengah keberadaan lautan yang mencapai 70 persen luas bumi.

“Alat dengan teknologi double panel itu dibuat untuk mengubah air laut menjadi air tawar dengan bantuan sinar matahari,” ujar Prasetyo kepadaOkezone di sela-sela acara Tanoto Student Research Award 2014 di Upper Room, Annex Building, Jakarta, Selasa (3/3/2015).

Dalam membuat alat ini, Prasetyo bekerja sama dengan empat temannya yaitu Aditya Pamadan, Zahra Widi Damayanti, Andry Tiraska, dan Luzmi Malia Izza. Prototipe alat tersebut memperlihatkan dua segitiga besar yang dihubungkan dengan sebuah pipa. Pada salah satu segitiga, terdapat segitiga lebih kecil di bagian dalam. Ini adalah sistem double panel yang dipakai tim Prasetyo guna memaksimalkan timbulnya panas dari sinar matahari.

Prasetyo menjelaskan, air laut dimasukkan ke ruangan di dalam segitiga kecil tadi. Kemudian, sinar matahari yang menembus dua panel kaca menciptakan suhu panas dan menimbulkan proses penguapan.

“Nantinya air tawar dan garam akan berpisah. Air tawar akan mengalir ke ruangan yang lainnya (di segitiga berbeda-red),” ungkapnya.

Prasetyo menyatakan hasil penyulingan dengan alat buatan mereka layak minum sesuai standar kesehatan. Dia berharap inovasi ini dapat menjadi solusi memenuhi kebutuhan air bersih yang sangat tinggi. Ironisnya, kata Prasetyo, banyak warga Indonesia berburu air bersih padahal di sekelilingnya adalah laut.

“Alat ini nanti akan dipasang di daerah-daerah pesisir. Dengan begitu masyarakat di sana bisa mendapat fasilitas air bersih dengan mudah karena alat ini tidak membutuhkan energi listrik dan memanfaatkan energi matahari sepenuhnya,” imbuh Prasetyo.

(rfa)